Greetings!

Do you know? One of the things that makes it difficult for someone to find a job is because the skills a person possesses do not match those needed by the world of work. Likewise for those who have a business, one of the things that makes a business is because of the lack of suitable skills needed to raise a business. So, to help friends build their careers and businesses more smoothly, DNetwork created a new program called "Aku Mampu"

(A barista from Jumping Stone Coffee & Grill Bali explains how to use different kinds of coffee-making tools during the training on Monday (21/6))
In collaboration with ThisAble Enterprise, DNetwork – Jaringan Kerja Disabilitas held a series of exciting training sessions for people with disabilities in the Bali area. This training was carried out offline, implementing the health protocols that apply during the pandemic. The first session, which was held on Saturday, June 19, 2021, consisted of a baking class followed by product photography training.

DNetwork believes this baking class is not only fun but also important and useful considering that the culinary sector is one of the potential businesses to thrive during the pandemic. About 30 participants were taught how to make simple pastries filled with cream of various flavors. After the baking class, participants were also given a quick workshop to understand product photography techniques because DNetwork believes that, in any business, including those within the culinary sector, good quality photos will attract more buyers.

The next training session was held on Monday, June 21, 2021. This time, 30 participants were invited to get to know an e-commerce company, JD.ID, which has a commission-based program on its platform. With this program, participants can easily earn a daily income by using their smartphone. After the training from JD.ID, participants were introduced to a business from a sector that also has great potential: coffee. Bringing in experienced baristas from Jumping Stone Coffee & Grill Bali, participants were given an understanding that the coffee business doesn't always have to be expensive. At the same time, participants were also given the opportunity to practice making coffee using the available tools.

Sabtu lalu (3/7) DNetwork berkesempatan ngobrol dengan Arrohma Sukma dan Ani Handayani mengenai profesi mereka sebagai petugas call centre di acara Kenali Profesi.

Arrohma saat ini bekerja sebagai petugas call centre di Bank Mandiri dan berdomisili di Jogjakarta. Di kesehariannya ia melayani pelanggan melalui telpon dari berbagai daerah di Indonesia. Lain halnya dengan Ani Handayani yang bekerja di bank BTPN di Kota Semarang. Ia lebih banyak melayani pelanggan melalui media tertulis seperti e-mail, chat, ataupun sosial media.

Sebagai petugas call centre Arrohma dan Ani sama-sama harus menguasai produk yang dimiliki oleh perusahaan masing-masing, sehingga mereka dapat membantu pelanggan memecahkan masalahnya ataupun mendapatkan informasi yang benar dan detail mengenai produk. Selain itu seorang petugas call centre juga harus tahu bagaimana cara berkomunikasi yang baik, benar dan bersopan santun.

Lalu bagaimana jika ada pelanggan yang kurang sopan? Arrohma dan Ani menuturkan bahwa meskipun pelanggan tersebut kurang sopan, namun harus tetap dihadapi dengan sopan dan santun. "Biasanya pelanggan itu bukan marah kepada kita, tapi kepada permasalahannya. Karena itu kita harus tetap sopan dan membantu.", kata Arrohma.

Ada banyak lagi nih hal yang dibahas dalam webinar kali ini. Jika kamu tidak sempat mengikuti sesi Zoom-nya, tidak usah khawatir karena kamu juga bisa menyaksikan tayangan ulangnya lewat Youtube. Silakan klik link ini, ya https://youtu.be/CVzJnYWgwgk .

Profesi apa lagi nih yang akan dibahas lewat webinar Kenali Profesi?
Tunggu kabarnya di media sosial DNetwork, ya!

Foto: 9 perwakilan organisasi disabilitas yang berkomintmen mengembangkan program Jaminan Kesehatan Khusus (Jamkesus) Disabilitas di Provinsi Bali

 

9 organisasi disabilitas berkomitmen untuk menerapkan program Jaminan Kesehatan Khusus (Jamkesus) Disabilitas di Provinsi Bali, termasuk diantaranya adalah DNetwork yang akan turut berperan aktif dalam merencanakan, mengawasi, mensosialisasikan dan memberi masukan terhadap jalannya program Jamkesus Provinsi Bali. 

Untuk mengembangkan model Jamkesus yang sesuai dengan penyandang disabilitas di Provinsi Bali. Team Gugus Tugas akan mengadakan 3 pertemuan dalam setahun guna membahas langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan untuk memaksimalkan kerja dari Team Gugus Tugas. Pertemuan pertama telah diadakan tanggal 27 Mei 2021 lalu untuk membentuk Gugus Tugas alat bantu adaptif. Gugus Tugas ini nantinya bertugas untuk memastikan tersedianya alat bantu dan jaminan kesehatan yang layak dan mampu mendukung kehidupan penyandang disabilitas di Bali.  

Program Jamkesus ini sebelumnya telah sukses dilaksanakan di Provinsi D.I. Yogyakarta dan kini akan diadaptasi di Provinsi Bali. Langkah ini diinisiasi oleh Puspadi Bali, Annika Linden Centre, dan UCPRUK dengan menggandeng 5 organisasi penyandang disabilitas (OPD) dan 4 Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS). Selain itu Gugus Tugas ini juga akan melibatkan perwakilan pemerintah sebanyak 5 orang yang rencananya akan diundang pada pertemuan kedua di bulan Juli mendatang. Harapannya terjadi kerjasama yang baik antara OPD, LKS, dan juga pemerintah, sehingga program Jamkesus Provinsi Bali dapat terlaksana dengan optimal dan meningkatkan kesejahteraan penyandang disabilitas di Provinsi Bali.