Teks foto: Dalam salah satu sesi dalam Seri Webinar Pola Pikir, seorang peserta bertanya kepada Ahmad Aziz (Engagement Lead di campaign.com) tentang kolaborasi dalam lingkup wirausaha.

 

DNetwork - Jaringan Kerja Disabilitas menggelar kembali webinar untuk mendukung pengembangan diri pencari kerja disabilitas. Berbeda dari gelaran sebelumnya yang menggaris bawahi pembentukan pengetahuan dan kemampuan, webinar kali ini fokus pada pembentukan pola pikir. Karena tidak dapat dimungkiri, pola pikir punya peran sangat besar dalam membangun karakter seseorang, baik dalam lingkup kehidupan pribadi, sosial, maupun profesional. Kata orang, mengubah pola pikir adalah awal dari mengubah hidup.

Webinar tentang pola pikir ini digelar sebagai sebuah rangkaian kegiatan yang berlangsung selama empat hari, mulai dari 13 sampai 16 April, 2021. Selain tim DNetwork sendiri, ada tiga orang pembicara lainnya yang menyampaikan materi berbeda-beda; Ahmad Aziz (Engagement Lead di campaign.com) menyampaikan materi tentang Kolaborasi, Ana Azzahra (CEO di Saung Riset) menyampaikan materi tentang Berpikir Kritis, dan Jawwadurrohman (Global Talent & Learning Partner di Gojek) menyampaikan materi tentang Kreativitas.

Sekitar 40 penyandang disabilitas dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti rangkaian webinar ini. Beragam pertanyaan dan diskusi menarik pun muncul dalam empat sesi webinar. Menurut survey yang kami bagikan kepada peserta seusai rangkaian webinar, keempat sesi ini sangat bermanfaat dengan paparan yang mudah dipahami. Suriani, salah satu peserta, menyebutkan bahwa rangkaian webinar ini memotivasinya, “terutama untuk selalu berpkir positif, berani untuk terus mencoba hal baru, dan tidak menyerah walau pernah gagal”.

Rangkaian program Aku Mampu didukung oleh:

 

 

 

 

Foto: 9 perwakilan organisasi disabilitas yang berkomintmen mengembangkan program Jaminan Kesehatan Khusus (Jamkesus) Disabilitas di Provinsi Bali

 

9 organisasi disabilitas berkomitmen untuk menerapkan program Jaminan Kesehatan Khusus (Jamkesus) Disabilitas di Provinsi Bali, termasuk diantaranya adalah DNetwork yang akan turut berperan aktif dalam merencanakan, mengawasi, mensosialisasikan dan memberi masukan terhadap jalannya program Jamkesus Provinsi Bali. 

Untuk mengembangkan model Jamkesus yang sesuai dengan penyandang disabilitas di Provinsi Bali. Team Gugus Tugas akan mengadakan 3 pertemuan dalam setahun guna membahas langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan untuk memaksimalkan kerja dari Team Gugus Tugas. Pertemuan pertama telah diadakan tanggal 27 Mei 2021 lalu untuk membentuk Gugus Tugas alat bantu adaptif. Gugus Tugas ini nantinya bertugas untuk memastikan tersedianya alat bantu dan jaminan kesehatan yang layak dan mampu mendukung kehidupan penyandang disabilitas di Bali.  

Program Jamkesus ini sebelumnya telah sukses dilaksanakan di Provinsi D.I. Yogyakarta dan kini akan diadaptasi di Provinsi Bali. Langkah ini diinisiasi oleh Puspadi Bali, Annika Linden Centre, dan UCPRUK dengan menggandeng 5 organisasi penyandang disabilitas (OPD) dan 4 Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS). Selain itu Gugus Tugas ini juga akan melibatkan perwakilan pemerintah sebanyak 5 orang yang rencananya akan diundang pada pertemuan kedua di bulan Juli mendatang. Harapannya terjadi kerjasama yang baik antara OPD, LKS, dan juga pemerintah, sehingga program Jamkesus Provinsi Bali dapat terlaksana dengan optimal dan meningkatkan kesejahteraan penyandang disabilitas di Provinsi Bali.

Foto: Tangkapan layar dari salah satu sesi program Bahasa Inggris yang digagas oleh DNetwork bersama After School English.

 

Tidak bisa dimungkiri, kemampuan berbahasa Inggris saat ini merupakan salah satu faktor paling berpengaruh dalam mendapatkan pekerjaan yang layak. Kini banyak perusahaan yang menerapkan wawancara kerja dalam Bahasa Inggris, bahkan menjadikan skor tes Bahasa Inggris tertentu sebagai syarat untuk melamar kerja. Karenanya, DNetwork – Jaringan Kerja Disabilitas, merasa perlu untuk membekali para pencari kerja disabilitas dengan kemampuan Bahasa Inggris yang mumpuni agar kompetensinya di pasar kerja meningkat.

Dengan dukungan dari Inspirasia Foundation dan Direct Aid Program yang digagas Konsulat Jendral Australia di Bali, DNetwork memulai pelatihan intensif Bahasa Inggris bagi 40 peserta disabilitas terpilih. Ternyata, kegiatan ini disambut sangat baik oleh komunitas disabilitas dan pendaftarnya pun mencapai lebih dari 100 orang dari berbagai penjuru Indonesia. Untuk memastikan efektivitas pembelajaran, peserta disaring melalui pre-test dan dikelompokan sesuai dengan disabilitasnya agar bisa mendapatkan akomodasi dan penyesuaian cara penyampaian yang tepat. Para pengajar yang berasal dari lembaga After School English, merupakan pengajar berpengalaman yang lihai menyesuaikan cara ajar serta menjadikan proses belajar menyenangkan.

Salah satu peserta Tuli, Josephine Kintan, menyatakan bahwa dirinya sangat senang terpilih untuk mengikuti program Bahasa Inggris ini. “Ini adalah kesempatan besar. Terutama dengan adanya akomodasi berupa Juru Bahasa Isyarat di setiap kelas. Terima kasih, DNetwork,” paparnya. Semoga setelah selesai 16 kelas Bahasa Inggris ini, kemampuan para peserta meningkat pesat, terutama dalam hal kepercayaan diri saat berkomunikasi.

Rangkaian program Aku Mampu didukung oleh:

 

 

Tahukah kamu?

Terdapat dua model cara pandang terhadap disabilitas yang dominan digunakan hingga kini di seluruh bagian dunia, yaitu medical model dan social model (Rieser, 2000, p. 119-122).

Medical model berfokus kepada individu sebagai penyandang disabilitas. Model ini melihat disabilitas sebagai sebuah masalah yang dimiliki seseorang yang menjadikan seseorang tersebut berbeda. Hal ini karena semata-mata keterbatasan yang dimiliki dilihat sebagai kekurangan. Kekurangan tersebut dianggap membuat orang yang mengalaminya menjadi tidak dapat melakukan fungsi sosial secara mandiri sehingga membutuhkan bantuan.

Social model memandang disabilitas disebabkan oleh adanya hambatan karena faktor-faktor yang ada disekitarnya. Model ini juga memandang keterbatasan yang dimiliki penyandang disabilitas bukan sebuah kekurangan atau “ketidaknormalan”, melainkan sebuah kekuatan untuk dapat menjadi bagian dalam masyarakat. Social model adalah cara pandang yang lebih bijak terhadap Penyandang Disabilitas.

Realitanya sampai saat ini cara pandang yang masih dominan digunakan masyarakat dalam melihat disabilitas adalah medical model. Cara pandang inilah yang membuat berbagai bentuk permasalahan yang dihadapi oleh penyandang disabilitas di lingkungan sosial terbentuk. Keterbatasan yang dimiliki penyandang disabilitas dianggap sebagai penyakit dan sumber permasalahan. Cara pandang inilah yang membuat penyandang disabilitas rentan mendapatkan perlakuan diskriminatif dan pengabaian hak-haknya.

Jika kita masih memiliki cara pandang medical model, bagaimana cara mengubahnya?

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mulai memandang Penyandang Disabilitas melalui social model.

Pertama; Ubah penyebutan “cacat” menjadi “Penyandang Disabilitas” (diawali huruf kapital). Penyebutan Penyandang Disabilitas dengan sebutan “cacat” sudah tidak lagi berlaku. Sejak diterbitkan Undang-Undang No. 8 tahun 2016, istilah “cacat” sudah digantikan dengan sebutan Penyandang Disabilitas. Istilah cacat adalah istilah dengan cara pandang medical model dimana kecacatan menggambarkan kondisi “sakit” atau memiliki “ketidaknormalan” yang memiliki makna negatif, sedangkan istilah Penyandang Disabilitas memberikan sebuah pengakuan dimana kelompok Disabilitas menjadi bagian dari kelompok di masyarakat yang memiliki keistimewaan. 

Kedua; Mencari informasi terkait Isu Disabilitas dan Perkembangannya. Langkah ini menjadi salah satu langka yang perlu dilakukan oleh teman-teman untuk merubah pandangan kepada Penyandang Disabilitas. Mencari informasi dan membaca terkait kondisi Penyandang Disabilitas di dunia maupun di Indonesia membuat kita lebih paham tentang kondisi yang dialami Penyandang Disabilitas sampai saat ini. Selain itu kita juga bisa melihat lebih jeli lingkungan di sekitar kita sudah ramah untuk Penyandang Disabilitas. 

Ketiga; Jadilah Inklusif. Merubah cara pandang tanpa adanya aksi tidak dapat dikatakan berhasil bila teman-teman tidak dapat menciptakan lingkungan yang inklusif bagi Penyandang Disabilitas. Dapat hidup berdampingan dan saling tolong menolong menjadi bentuk awal teman-teman menciptakan lingkungan inklusif. Selain itu, lingkungan inklusif dapat tercipta bila teman-teman dapat mulai merubah stereotip negatif yang sudah tertanam di masyarakat mengenai pandangan negatif terhadap Penyandang Disabilitas, seperti mengurangi penggunaan istilah-istilah negatif untuk menyebutkan kelompok Penyandang Disabilitas.

Menjadi inklusif adalah sebuah proses panjang. Semangat terus menjalani prosesnya, ya!

Penulis: Dwiagung Widyantari Aryanto