Tahukah kamu?

Terdapat dua model cara pandang terhadap disabilitas yang dominan digunakan hingga kini di seluruh bagian dunia, yaitu medical model dan social model (Rieser, 2000, p. 119-122).

Medical model berfokus kepada individu sebagai penyandang disabilitas. Model ini melihat disabilitas sebagai sebuah masalah yang dimiliki seseorang yang menjadikan seseorang tersebut berbeda. Hal ini karena semata-mata keterbatasan yang dimiliki dilihat sebagai kekurangan. Kekurangan tersebut dianggap membuat orang yang mengalaminya menjadi tidak dapat melakukan fungsi sosial secara mandiri sehingga membutuhkan bantuan.

Social model memandang disabilitas disebabkan oleh adanya hambatan karena faktor-faktor yang ada disekitarnya. Model ini juga memandang keterbatasan yang dimiliki penyandang disabilitas bukan sebuah kekurangan atau “ketidaknormalan”, melainkan sebuah kekuatan untuk dapat menjadi bagian dalam masyarakat. Social model adalah cara pandang yang lebih bijak terhadap Penyandang Disabilitas.

Realitanya sampai saat ini cara pandang yang masih dominan digunakan masyarakat dalam melihat disabilitas adalah medical model. Cara pandang inilah yang membuat berbagai bentuk permasalahan yang dihadapi oleh penyandang disabilitas di lingkungan sosial terbentuk. Keterbatasan yang dimiliki penyandang disabilitas dianggap sebagai penyakit dan sumber permasalahan. Cara pandang inilah yang membuat penyandang disabilitas rentan mendapatkan perlakuan diskriminatif dan pengabaian hak-haknya.

Jika kita masih memiliki cara pandang medical model, bagaimana cara mengubahnya?

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mulai memandang Penyandang Disabilitas melalui social model.

Pertama; Ubah penyebutan “cacat” menjadi “Penyandang Disabilitas” (diawali huruf kapital). Penyebutan Penyandang Disabilitas dengan sebutan “cacat” sudah tidak lagi berlaku. Sejak diterbitkan Undang-Undang No. 8 tahun 2016, istilah “cacat” sudah digantikan dengan sebutan Penyandang Disabilitas. Istilah cacat adalah istilah dengan cara pandang medical model dimana kecacatan menggambarkan kondisi “sakit” atau memiliki “ketidaknormalan” yang memiliki makna negatif, sedangkan istilah Penyandang Disabilitas memberikan sebuah pengakuan dimana kelompok Disabilitas menjadi bagian dari kelompok di masyarakat yang memiliki keistimewaan. 

Kedua; Mencari informasi terkait Isu Disabilitas dan Perkembangannya. Langkah ini menjadi salah satu langka yang perlu dilakukan oleh teman-teman untuk merubah pandangan kepada Penyandang Disabilitas. Mencari informasi dan membaca terkait kondisi Penyandang Disabilitas di dunia maupun di Indonesia membuat kita lebih paham tentang kondisi yang dialami Penyandang Disabilitas sampai saat ini. Selain itu kita juga bisa melihat lebih jeli lingkungan di sekitar kita sudah ramah untuk Penyandang Disabilitas. 

Ketiga; Jadilah Inklusif. Merubah cara pandang tanpa adanya aksi tidak dapat dikatakan berhasil bila teman-teman tidak dapat menciptakan lingkungan yang inklusif bagi Penyandang Disabilitas. Dapat hidup berdampingan dan saling tolong menolong menjadi bentuk awal teman-teman menciptakan lingkungan inklusif. Selain itu, lingkungan inklusif dapat tercipta bila teman-teman dapat mulai merubah stereotip negatif yang sudah tertanam di masyarakat mengenai pandangan negatif terhadap Penyandang Disabilitas, seperti mengurangi penggunaan istilah-istilah negatif untuk menyebutkan kelompok Penyandang Disabilitas.

Menjadi inklusif adalah sebuah proses panjang. Semangat terus menjalani prosesnya, ya!

Penulis: Dwiagung Widyantari Aryanto

(Salah seorang barista dari Jumping Stone Bali menjelaskan jenis-jenis alat pembuat kopi saat training Senin (21/6) lalu)

DNetwork - Jaringan Kerja Disabilitas bekerja sama dengan ThisAble Enterprise menyelenggarakan serangkaian pelatihan seru bagi penyandang disabilitas di daerah Bali. Rangkaian pelatihan ini dilaksanakan secara tatap muka, dengan menerapkan protokol kesehatan yang berlaku selama pandemi. Pelatihan pertama diselenggarakan pada Sabtu, 19 Juni 2021 yaitu pelatihan membuat kue dan dilajutkan dengan pelatihan foto produk.
 
Pelatihan membuat kue dirasa penting dan bermanfaat mengingat bisnis kuliner merupakan salah satu potensi usaha di saat pandemi. Sekitar 30 peserta diajari cara membuat  kue kering sederhana yang diisi dengan krim berbagai rasa. Setelah praktik membuat kue, peserta juga diajak memahami dan mempraktikkan teknik foto produk. DNetwork percaya, dalam bisnis apa pun, termasuk kuliner, kualitas foto yang bagus akan semakin menarik hati pembeli.
 
Pelatihan selanjutnya diadakan pada Senin, 21 Juni 2021. Sekitar 30 peserta diajak berkenalan dengan sebuat perusahaan ecommerce yaitu JD.ID yang memiliki program komisi lewat platformnya. Dengan program ini, peserta dapat menambah pemasukan harian dengan mudah lewat memanfaatkan ponsel pintarnya. Setelah pelatihan dari JD.ID ini, peserta diperkenalkan pada salah satu bisnis yang juga potensinya besar yaitu kopi. Mendatangkan barista berpengalaman dari Jumping Stone Coffee Bali, peserta diberikan pemahaman bahwa bisnis kopi tidak harus selalu mahal dan sekaligus diberi kesempatan praktik langsung menggunakan alat-alat pembuatan kopi yang tersedia.

Sabtu lalu (3/7) DNetwork berkesempatan ngobrol dengan Arrohma Sukma dan Ani Handayani mengenai profesi mereka sebagai petugas call centre di acara Kenali Profesi.

Arrohma saat ini bekerja sebagai petugas call centre di Bank Mandiri dan berdomisili di Jogjakarta. Di kesehariannya ia melayani pelanggan melalui telpon dari berbagai daerah di Indonesia. Lain halnya dengan Ani Handayani yang bekerja di bank BTPN di Kota Semarang. Ia lebih banyak melayani pelanggan melalui media tertulis seperti e-mail, chat, ataupun sosial media.

Sebagai petugas call centre Arrohma dan Ani sama-sama harus menguasai produk yang dimiliki oleh perusahaan masing-masing, sehingga mereka dapat membantu pelanggan memecahkan masalahnya ataupun mendapatkan informasi yang benar dan detail mengenai produk. Selain itu seorang petugas call centre juga harus tahu bagaimana cara berkomunikasi yang baik, benar dan bersopan santun.

Lalu bagaimana jika ada pelanggan yang kurang sopan? Arrohma dan Ani menuturkan bahwa meskipun pelanggan tersebut kurang sopan, namun harus tetap dihadapi dengan sopan dan santun. "Biasanya pelanggan itu bukan marah kepada kita, tapi kepada permasalahannya. Karena itu kita harus tetap sopan dan membantu.", kata Arrohma.

Ada banyak lagi nih hal yang dibahas dalam webinar kali ini. Jika kamu tidak sempat mengikuti sesi Zoom-nya, tidak usah khawatir karena kamu juga bisa menyaksikan tayangan ulangnya lewat Youtube. Silakan klik link ini, ya https://youtu.be/CVzJnYWgwgk .

Profesi apa lagi nih yang akan dibahas lewat webinar Kenali Profesi?
Tunggu kabarnya di media sosial DNetwork, ya!

Foto: 9 perwakilan organisasi disabilitas yang berkomintmen mengembangkan program Jaminan Kesehatan Khusus (Jamkesus) Disabilitas di Provinsi Bali

 

9 organisasi disabilitas berkomitmen untuk menerapkan program Jaminan Kesehatan Khusus (Jamkesus) Disabilitas di Provinsi Bali, termasuk diantaranya adalah DNetwork yang akan turut berperan aktif dalam merencanakan, mengawasi, mensosialisasikan dan memberi masukan terhadap jalannya program Jamkesus Provinsi Bali. 

Untuk mengembangkan model Jamkesus yang sesuai dengan penyandang disabilitas di Provinsi Bali. Team Gugus Tugas akan mengadakan 3 pertemuan dalam setahun guna membahas langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan untuk memaksimalkan kerja dari Team Gugus Tugas. Pertemuan pertama telah diadakan tanggal 27 Mei 2021 lalu untuk membentuk Gugus Tugas alat bantu adaptif. Gugus Tugas ini nantinya bertugas untuk memastikan tersedianya alat bantu dan jaminan kesehatan yang layak dan mampu mendukung kehidupan penyandang disabilitas di Bali.  

Program Jamkesus ini sebelumnya telah sukses dilaksanakan di Provinsi D.I. Yogyakarta dan kini akan diadaptasi di Provinsi Bali. Langkah ini diinisiasi oleh Puspadi Bali, Annika Linden Centre, dan UCPRUK dengan menggandeng 5 organisasi penyandang disabilitas (OPD) dan 4 Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS). Selain itu Gugus Tugas ini juga akan melibatkan perwakilan pemerintah sebanyak 5 orang yang rencananya akan diundang pada pertemuan kedua di bulan Juli mendatang. Harapannya terjadi kerjasama yang baik antara OPD, LKS, dan juga pemerintah, sehingga program Jamkesus Provinsi Bali dapat terlaksana dengan optimal dan meningkatkan kesejahteraan penyandang disabilitas di Provinsi Bali.